Kamis, 12 April 2012

Cara Memperpanjang Masa Aktif Kartu Flexi Prabayar Tanpa Harus Isi Ulang Pulsa (Flexi EXTEND ME)

Cara Memperpanjang Masa Aktif Kartu Flexi Prabayar Tanpa Harus Isi Ulang Pulsa (Flexi EXTEND ME) 
Anda pengguna kartu flexi prabayar (trendy), saat ini anda tidak perlu khawatir untuk memperpanjang masa aktif kartu anda tanpa perlu melakukan isi ulang pulsa tetapi cukup men-deduct saldo pulsa (balance) yang masih tersisa maka masa aktif anda akan bertambah. Adapun layanan ini disebut juga Flexi Extend Me.
Keuntungan Menggunakan Layanan Flexi Extend Me, yaitu:

1. Pelanggan yang masih memiliki saldo pulsa (balance) namun sudah memasuki masa tenggang (grace) atau akan memasuki masa tenggang masih bisa melakukan komunikasi secara normal dengan cara memperpanjang masa aktif kartu tanpa harus melakukan pengisian ulang pulsa.
2. Perpanjangan masa aktif kartu flexi prabayar (trendy) dapat dilakukan saat pelanggan berada pada periode aktif maupun periode masa tenggang.

Cara Memperpanjang Masa Aktif Tanpa Melakukan Isi ulang Pulsa, ada 2 cara yaitu

1. Kirim SMS ke 321 dengan Format : plus<spasi>[jumlah hari]

Contoh : plus 3 (untuk menambah masa aktif 3 hari) kirim ke 321

2. Melakukan panggilan langsung : *321*Jumlah Hari#

    Contoh : *321*5# (untuk menambah masa aktif 5 hari)

Ketentuan dan Persyaratan Menggunakan Layanan Flexi Extend Me, yaitu


  • Tarif SMS dikenakan biaya Rp 100/sms
  • Tarif perpanjangan/penambahan masa aktif dikenakan Rp 200/hari
  • Tarif tersebut diatas sudah termasuk PPn 10 %
  • Layanan ini tidak bisa digunakan jika masa pakai kartu sudah habis (expired)
  • Nilai masa aktif yang bisa ditambahkan mulai dari 1 hari s/d 30 hari

#semoga bermanfaat

Review Intel Sandy Bridge – Arsitektur, Teknologi, dan Feature


Clarkdale merupakan prosesor Intel yang tergolong unik. Keunikannya ada karena terdapat chip prosesor dan chip graphics card yang menyatu dalam sebuah keping prosesor. Clarkdale pula yang menandai kehadiran pertama dari prosesor dekstop dengan chip graphics card di dalamnya. Chip Clarkdale diproduksi dengan proses fabrikasi 32 nm dan inilah prosesor pertama Intel yang mengadopsi proses fabrikasi ini. Akan tetapi, chip graphics card yang ada di Clarkdale masih diproduksi dengan proses fabrikasi 45nm.

Di awal tahun 2011 ini, Intel secara resmi merilis keluarga prosesor Intel Core generasi kedua mereka. Prosesor tersebut telah menggunakan arsitektur baru yang diberi nama Sandy Bridge. Sama seperti prosesor Clarkdale, Sandy Bridge memiliki chip prosesor dan chip graphics card di dalamnya. Selain menggunakan arsitektur baru, Sandy Bridge juga dilengkapi beberapa teknologi dan feature baru di dalamnya. Ingin tahu lebih jauh tentang arsitektur, teknologi, dan feature Sandy Bridge? Simak artikel berikut ini....


Arsitektur Sandy Bridge
Sama seperti Clarkdale, tertanam chip prosesor dan graphics card di dalam kepingan Sandy Bridge ini. Berbeda dengan Clarkdale, dimana kedua chip tersebut letaknya terpisah, letak kedua chip tersebut menyatu dalam satu die. Untuk lebih jelasnya, Anda dapat melihat skema prosesor Intel Sandy Bridge pada gambar di bawah ini.


Chip Sandy Bridge dipersenjatai 995 Juta transistor dengan ukuran chip 216 mm2 dan diproduksi dengan proses fabrikasi 32 nm. Seperti yang dapat Anda lihat pada gambar di atas, chip Sandy Bridge terdiri dari empat buah core prosesor. Beberapa model prosesor dilengkapi teknologi Hyper threading sehingga sebuah prosesor dapat memiliki hingga delapan buah thread. Sedangkan di sebelah kiri core prosesor, Anda dapat menjumpai core graphics card atau Intel menyebutnya “Prosesor Graphics”.


Sandy Bridge dilengkapi Intel Smart Cache (L3 Cache) sebesar 8 MB. Akan tetapi, tidak semua model Sandy Bridge dilengkapi L3 Cache sebesar 8 MB seperti pada Core i5 dan Core i3. Sedangkan L1 Cache Sandy Bridge berukuran 64 KB dan L2 Cache berukuran 256 KB. Kontroler memori SandyBridge mendukung dual-channel memori DDR3 dengan kecepatan 1333 MHz. Feature Intel Turbo Boost juga hadir di Sandy Bridge, tetapi dengan versi lebih baru, yaitu 2.0. Beberapa model prosesor Sandy Bridge akan dilengkapi feature Turbo Boost.

Jajaran Prosesor Sandy Bridge


Tidak kurang dari 29 varian prosesor Sandy Bridge untuk platform desktop dan mobile telah atau akan dirilis ke pasaran. Masing-masing seri Core i3, Core i5, dan Core i7 akan mendapat jatah varian Sandy Bridge. Prosesor Sandy Bridge untuk platform desktop terdiri dari :

Core i7 : 2600K, 2600S, dan 2600
Core i5 : 2500K, 2500S, 2500T, 2500, 2400, 2400S, 2390T, dan 2300
Core i3 : 2120, 2100, dan 2100T


Spesifikasi Sandy Bridge
Inilah tabel spesifikasi beberapa model prosesor Sandy Bridge untuk desktop.




-Overclocking di Sandy Bridge-


Overclocking Sandy Bridge tergolong berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Di prosesor Intel generasi sebelumnya, overclocking dapat dilakukan dengan merubah nilai BCLK (Base Clock). Akan tetapi, di Sandy Bridge, dengan merubah nilai BCLK akan membuat clock pada komponen lain seperti clock PCI Express atau clock SATA berubah. Nilai BCLK pada Sandy Bridge berada pada 100 MHz dan perubahan sedikit saja pada nilai BCLK akan membuat clock komponen lain berubah, seperti untuk PCI Express dan SATA. Jika perubahan clock terlalu tinggi akan menyebabkan terganggunya kerja komponen tersebut.

Jika merubah nilai BCLK membuat sistem tidak stabil, bagaimana cara meng-overclock Sandy Bridge? Salah satu caranya adalah dengan menaikkan nilai multiplier prosesor dan proseosor Sandy Bridge yang memiliki multiplier tidak dikunci adalah seri “K”. Dalam jajaran model prosesor Sandy Bridge memang terdapat seri “K” dan seri “non-K”. Jika Anda hanya ingin menjalankan sistem Sandy Bridge Anda dalam keadaan default, Anda dapat memilih prosesor non-K. Sedangkan jika Anda ingin mengutak-atik kecepatan prosesor Sandy Bridge Anda, Anda dapat memilih seri “K” yang ditambah motherboard chipset Intel P67.

Platform Sandy Bridge
Prosesor Intel Sandy Bridge menggunakan motherboard dengan chipset terbaru yaitu chipset Intel seri 6. Tidak kurang sepuluh buah varian chipset Intel seri 6 hadir ke pasaran, lima buah untuk platform dekstop dan lima buah untuk platform mobile. Varian untuk platform desktop terdiri dari P67, H67, H61, Q67, dan B65. Sedangkan untuk varian mobile terdiri dari QS67, QM67, HM67, HM65, dan UM67.

Intel juga memperkenalkan soket terbaru untuk prosesor Intel Sandy Bridge yaitu soket LGA1155. Anda tidak dapat memasangkan prosesor Intel yang menggunakan soket LGA1156 di motherboard soket LGA1155. Kabar baiknya, Anda masih bisa menggunakan HSF soket LGA1156 di soket LGA1155. Jadi, Anda tidak perlu membeli HSF baru.


Pada tabel di atas, Anda dapat melihat perbedaan spesifikasi chipset Intel seri 6 untuk platform desktop. Untuk konsumer umum, chipset yang tersedia adalah Intel P67 dan H67. Chipset H67 tampaknya lebih ditujukan untuk penggunaan di HTPC (Home Theater PC) atau komputer untuk keperluan komputasi ringan yang tidak membutuhkan tambahan graphics card add-on. Sedangkan chipset P67 lebih ditujukan untuk enthusiast user yang menginginkan kinerja lebih dari sistem Sandy Bridge mereka.


Gambar di atas adalah diagram sistem dengan chipset Intel P67 dan H67. Chipset P67 dan H67 kini mendukung koneksi SATA III (SATA 6Gbps). Jumlah port SATA maksimal berjumlah enam buah dimana dua buah port merupakan port SATA III dan sisanya SATA II. Dibandingkan chipset H67, jalur PCIe x16 pada P67 dapat dibagi menjadi dua jalur sehingga slot PCIe berjalan pada kecepatan x8 pada masing-masing slot. Dua jalur PCIe memungkinkan P67 menjalankan mode multi-graphics card SLI atau CrossfireX. Walaupun chipset P67 dan H67 hanya mendukung USB 2.0, tampaknya beberapa produsen motherboard akan menambahkan feature USB 3.0 dengan menggunakan chip tambahan.


Intel HD Graphics 2000 dan 3000


Semua model prosesor Intel Sandy Bridge dilengkapi graphics card Intel HD Graphics. Terdapat dua varian graphics card di Sandy Bridge yaitu Intel HD Graphics 2000 dan 3000. Intel HD Graphics 2000/3000 mendukung teknologi DirectX 10.1, Shader Model 4.1, dan Open GL 3.0. Perbedaan Intel HD Graphics terletak pada jumlah EU (Execution Units). Execution Units merupakan sebutan lain dari Stream Prosesor. Intel HD Graphics 2000 dilengkapi 6 EU dan 12 EU pada Intel HD Graphics 3000. Untuk mengaktifkan Intel HD Graphics, Anda membutuhkan motherboard dengan chipset seri H seperti H67.




Intel HD Graphics Control Panel



Intel Turbo Boost 2.0

Pada Sandy Bridge,versi feature Turbo Boost mengalami peningkatan menjadi 2.0. Turbo Boost 2.0 pada Sandy Bridge memiliki cara kerja yang hampir sama seperti versi sebelumnya tetapi pada versi 2.0 clock speed masih dapat naik lebih tinggi di atas nilai TDP prosesor.


Inilah kondisi clock speed Core i7 2600K pada saat Turbo Boost aktif. Pada Turbo Boost 2.0, jika hanya satu core yang digunakan secara penuh oleh aplikasi, salah satu core akan meningkatkan clock speed hingga 3.8 GHz sedangkan tiga buah core lagi berada dalam kondisi idle. Namun, jika saat mencapai batas atas “Turbo Clock Speed” panas prosesor belum mencapai batas maksimal yang ditentukan, clock speed prosesor dapat naik lebih tinggi di atas 3.8 GHz.


Selain prosesor, graphics card pada Sandy Bridge juga dilengkapi feature Turbo Boost. Jika penggunaan prosesor tidak tinggi dan nilai TDP belum tercapai, clock graphics card akan naik dari kondisi default. Pada Core i7 2600K, clock graphics card dapat naik hingga 1100 MHz.

Intel Quick Sync

Intel memperkenalkan feature terbaru mereka yaitu Intel Quick Sync di prosesor Sandy Bridge. Feature ini memungkinan video diproses oleh hardware, bukan lagi software seperti pada Clarkdale/Arrandale. Penerapan feature ini dapat Anda jumpai di aplikasi transcoding video seperti MediaEspresso 6.0.


Pada MediaEspresso 6.0 feature “Full Hardware Acceleration” kini dapat diaktifkan. Sayangnya feature ini hanya aktif jika sistem menggunakan graphics card Sandy Bridge, Intel HD Graphics. Saat kami menambahkan graphics card add-on seperti AMD (ATI) atau NVIDIA, feature “Full Hadware Acceleration” milik Intel menjadi tidak aktif.


Pada gambar di atas, Anda dapat melihat MediaEspresso 6.0 menampilkan logo Intel saat feature “Full Hardware Acceleration di aktifkan. Feature Intel Quick Sync membuat proses transcoding video berjalan lebih cepat


Sumber : JagatRiview

Review AMD "Bulldozer" FX-8150 (Zambezi)

Review AMD "Bulldozer" FX-8150 (Zambezi)



Setelah penantian panjang, akhirnya prosesor terbaru dari AMD ini pun diluncurkan. Bagaimana kinerjanya? Mampukah produk ini bersaing dengan jajaran prosesor Intel saat ini? Uji kami akan membuktikannya.  
Sejak tahun 2003 silam, AMD bisa dibilang belum memiliki desain prosesor yang benar-benar baru. Desain arsitektur K8 atau mungkin lebih dikenal dengan Athlon64 sudah beberapa kali mengalami modifikasi dan optimalisasi.
Siklus ini berjalan cukup lama karena Phenom II yang dibangun berdasarkan generasi K10.5, nyatanya hanya merupakan hasil “modernisasi” arsitektur K8. Beruntung, pada akhirnya AMD memutuskan untuk meninggalkan rancangan tersebut dan beralih ke arsitektur mikroprosesor baru.
Dengan diluncurkannya arsitektur baru ini terutama untuk pasar desktop, AMD ingin meningkatkan kinerja prosesornya terutama sejak Intel hadir dengan prosesor berbasis Sandy Bridge. Adalah Bulldozer, yang disebut-sebut sebagai senjata AMD untuk menghadapi Intel (dengan keunggulan di segmen multi-threading serta multi-core).
Rancangan AMD pada Bulldozer terbilang unik karena alih-alih menyebutnya inti atau core, AMD menyebutnya modul. Sebuah modul Bulldozer terdiri dari dua buah unit integer dan sebuah unit FPU atau Floating Point yang dipakai bersama. Selain itu, pada Bulldozer, L2 cache serta unit fetch/decode juga dibagi di antara dua unit integer tersebut. Jadi, sebuah prosesor 8-core berbasiskan Bulldozer berisikan empat buah modul tersebut. Namun, sistem operasi atau aplikasi  akan “melihat” jumlah unit integer yang ada pada Bulldozer sebagai core.

Sekilas model ini mirip dengan metode Hyper-Threading milik Intel. Namun AMD mengatakan bahwa Bulldozer memiliki unit interger dan scheduler mandiri pada setiap thread. Ini membuat kinerja sebuah modul Bulldozer mampu mencapai level 80% dari dua buah core tunggal standar dalam konfigurasi dual-core. Sementara pada metode Hyper-Threading, dua thread harus berbagi sumber daya yang sama pada satu buah core.

Ketika AMD meluncurkan Phenom II X6, AMD melengkapi prosesor tersebut dengan feature baru yakni Turbo Core. Turbo Core pada Bulldozer mampu bekerja lebih optimal ketimbang pada Phenom II.
Ada tiga kondisi (state) untuk menentukan kecepatan prosesor menggunakan Turbo Core: CPU Base (kecepatan standar CPU), CPU Turbo Core (peningkatan kecepatan CPU di semua core), dan CPU Max Turbo (peningkatan kecepatan maksimal dengan kondisi setengah jumlah core berada dalam posisi idle).
Inkarnasi arsitektur Bulldozer untuk desktop dapat kita temui dalam jajaran prosesor AMD FX yang memiliki konfigurasi 4, 6, dan 8 core.
Kali ini kami berkesempatan untuk menjajal kemampuan prosesor AMD FX-8150 yang berinti delapan dan memiliki nama kode Zambezi. Tipe ini merupakan varian tertinggi prosesor terbaru AMD untuk saat ini. FX-8150 memiliki kecepatan 3,6 GHz yang bisa ditingkatkan menjadi 3,9 GHz pada kondisi turbo (semua core aktif), serta memiliki kecepatan Max Turbo 4,2 GHz.
Selain itu, Zambezi mendukung secara resmi penggunaan memori dualchannel DDR3-1866. Memori ini pada generasi sebelumnya hanya memiliki kecepatan DDR3-1333. Kecepatan HyperTransport link pun ditingkatkan dari 2 GHz (4 GT/s) menjadi 2,6 GHz (5,2 GT/s). Menariknya, bagi penggemar overclocking, semua prosesor AMD FX memiliki multiplier yang tidak dikunci. Ini akan memudahkan para overclocker yang ingin menggenjot performa prosesornya lebih tinggi dari spesifikasi standar.
Bersamaan dengan Llano, AMD juga meluncurkan platform baru yang disebut Lynx, yang merupakan kombinasi antara APU seri A dengan chipset seri A. Ini merupakan sebuah platform baru yang menggunakan Socket FM1 dan chipset baru FCH (Fusion Controller Hub) yang berfungsi layaknya sebuah South Bridge.
Kombinasi ini menyediakan dukungan SATA-III dan USB 3.0. Tersedia dua varian FCH, yakni A75 dan A55. Perbedaannya terletak pada dukungan SATA-III dan USB 3.0, yang pada A55, dihilangkan.
(Karuna) 
****
Prosesor dengan arsitektur Bulldozer ini memang ditunggu-tunggu. Tapi tampaknya AMD masih harus mengakui keunggulan Sandy Bridge Intel. FX-8150 memang terlihat mampu mengimbangi Core i7 2600K, namun secara keseluruhan saat ini kinerja Core i7 2600K masih lebih baik dengan hasil merata di semua jenis pengujian.  

Hasil Pengujian
Walaupun bekerja dengan kecepatan yang lebih tinggi, terlihat bahwa Bulldozer masih kesulitan untuk mengungguli Sandy Bridge. Pada beberapa uji macam encoding video yang mampu memanfaatkan banyak thread, FX-8150 memberikan hasil yang kompetitif terhadap i7 2600K.
Prosesor
AMD FX-8150
Intel Core i7 2600K
Clock (MHz)
3,6 GHz
3,4 GHz
SYSmark 2012 1.0.0.54 (64bit)
137
193
PCMark 7 Professional Edition 1.0.4 Score
2877
3411
3DMark11 Score
P3587
P3683
DiRT2 Demo 1920 x 1080 High DirectX 11
74,73 fps
75,27 fps
Audio Encoding (menit:detik)*
1:48
1:12
Video Encoding (menit:detik)*
10:52
10:24
*Lebih rendah lebih baik

Spesifikasi AMD “ZAMBEZI” FX-8150
Seri
FX-8150
Soket
AM3+ (942 pin)
Clock speed (MHz)
3600
TDP
125 W
Nama core
Zambezi
Jumlah core
8
FSB (MHz)
200
Multiplier
18x
L1 size
16 KB x8 (data)
64 KB x4 (instruction)
L2 size (shared)
2 MB x4
L3 size (shared)
8 MB
Harga kisaran
US$245

Plus     : Kinerja multi-thread tinggi, harga kompetitif untuk 8-core, Overclocking mudah denganmultiplier yang tidak dikunci.
Minus : Kinerja single-thread rendah, daya boros.

Skor Penilaian - Kinerja          : 4
- Feature         : 4
- Harga            : 3,5
- Skor total       : 3,83

Sumber : InfoKomputer

Rabu, 11 April 2012

Sepeda di Mana-mana

aSepeda di Mana-mana



Meski belum ada data resmi soal jumlah pengguna sepeda reguler di Tanah Air, fenomena yang terjadi setidaknya 2-3 tahun terakhir menunjukkan booming sepeda.

Data Earth Policy Institute menyebut, produksi sepeda dunia sebesar 94 juta per tahun dalam kurun 1990-2002 telah meningkat menjadi 130 juta pada 2007, melampaui produksi mobil yang sebesar 70 juta. Di beberapa negara, pertumbuhan jumlah penjualan ini dibantu oleh anjuran pemerintahnya—disertai insentif menarik—untuk menggunakan sepeda. Contohnya, pada 2009 pemerintah Italia mulai meluncurkan serangkaian program insentif untuk mendorong pembelian sepeda untuk memperbaiki kualitas udara perkotaan dan mengurangi jumlah mobil di jalan, dengan memberikan potongan 30 persen dari setiap harga sepeda.

China juga menunjukkan peningkatan volume sepeda. Pada 2007, jumlahnya mencapai 90 juta, tetapi kini menyentuh 430 juta, meski tingkat kepemilikan rata-rata masih lebih tinggi di Eropa. Di Belanda, satu orang punya lebih dari satu sepeda, dan sebanyak 27 persen dari seluruh perjalanan menggunakan sepeda. Sementara Denmark dan Jerman mendekati satu sepeda per orang, dengan persentase perjalanan sepeda 18 persen (Denmark) dan 10 persen (Jerman).

Capaian-capaian tersebut tentu saja memiliki sebab-sebab. Belanda, Denmark, dan Jerman sebelumnya telah menyiapkan infrastruktur yang bersahabat terhadap para pesepeda: parkir khusus sepeda, integrasi penuh dengan transportasi umum, edukasi lalu lintas yang komprehensif dan pelatihan bagi pesepeda. Di sisi lain, hal ini pula yang membuat negara besar lain seperti Amerika Serikat dan Inggris memiliki tingkat pengguna sepeda yang rendah: karena minimnya “grand design” dan kebijakan untuk itu, meski mereka sepertinya juga sedang menuju ke sana.

Sebagai sebuah moda transportasi personal, sepeda memang cukup ideal. Apa lagi jika dikaitkan dengan isu lingkungan dan kesehatan. Bersepeda bisa memperbaiki sistem pernapasan, menurunkan polusi udara, mereduksi obesitas, meningkatkan kebugaran fisik. Sepeda juga tidak—secara langsung—mengemisikan karbon dioksida. Saya tulis “secara langsung” karena saya yakin sebenarnya pada tingkat tertentu proses produksi satu buah sepeda pasti memiliki jejak karbon sendiri. Satu hal yang paling penting kenapa sepeda menjadi begitu populer: secara umum harganya terjangkau oleh jutaan orang yang tidak sanggup membeli mobil.

Mengingat bentuknya yang ringkas (dan kini juga menjamur sepeda lipat yang bisa dibuat lebih ringkas lagi), enam sepeda bisa termuat dalam lajur jalan yang digunakan oleh satu mobil. Belum lagi untuk parkir: satu spasi parkir untuk satu mobil bisa digunakan untuk memarkir 20 sepeda. Efisiensi sepeda dalam hal emisi karbon sebagai substituen mobil untuk perjalanan pendek adalah akar pangkat tiga dibandingkan emisi dari mobil.

Membandingkan efisiensi sepeda dengan mobil mungkin terkesan tidak “apple-to-apple“. Akan tetapi, tidak bisa tidak, jika ingin meninjaunya dari sisi upaya penekanan jumlah emisi karbon atau okupasi lahan publik, pembandingan ini mestilah dilakukan.

Dan seperti yang sudah saya singgung di atas, efisiensi sepeda bukan hanya berefek pada lingkungan, melainkan juga kesehatan. Sepeda sangat ideal untuk mengembalikan keseimbangan asupan kalori dan pengeluaran rutin seseorang untuk biaya kesehatan: mengurangi penyakit-penyakit kardiovaskuler, osteoporosis, arthritis, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Jika negara-negara Eropa (dan China) sudah menyiapkan infrastruktur yang memadai untuk menyambut ledakan sepeda—dan ledakan pertumbuhan ekonomi baru—bagaimana dengan Indonesia?
Kita masih perlu berpikir dan bekerja keras bahkan hanya untuk memperbaiki sarana umum yang paling dasar: jalur pejalan kaki. Hampir seluruh trotoar ibu kota (kecuali jalur protokol Sudirman-Thamrin) sudah diokupasi oleh pedagang dan…motor. Di sebuah jalan utama di Jakarta Barat, trotoar bahkan diratakan untuk menjadi bagian dari lahan parkir sebuah restoran besar, membuat pejalan kaki mesti berhati-hati jika melintas di situ, atau terkena risiko terserempet mobil.

Artinya, terlepas dari menjamurnya pengguna sepeda, pemangku kebijakan sepertinya tidak bisa terburu-buru memenuhi kebutuhan pesepeda sebelum kebutuhan paling hakiki dari jalan, yakni trotoar, dibenahi.

Hal lain yang juga menjadi perhatian adalah menjaga paradigma bahwa sepeda adalah moda pengganti kendaraan bermotor. Artinya, penggunaan sepeda idealnya bersifat substitutif, bukan sekadar adisional. Memang, tidak dapat dimungkiri, lanskap dan tata kota di Jakarta kerap memaksa orang memiliki rumah yang jauh dari tempat bekerja, sehingga amatlah berat (walau bukan tidak mungkin) jika orang yang tinggal di Bekasi, misalnya, mesti menggunakan sepeda sehari-hari ke kantor di Kebon Jeruk.

Risiko dari menganggap sepeda sebatas pada moda adisional membuat upaya pengurangan emisi karbon seperti sia-sia, karena pada kenyataannya mereka masih bergantung pada mobil atau motornya untuk perjalanan sehari-hari. Lebih buruk lagi, seperti fenomena yang kerap saya amati, jika sepeda hanya berfungsi sebagai bagian dari tren dan gaya hidup sehingga para pesepeda lebih sering disibukkan oleh gonta-ganti aksesoris dan memikirkan rencana jalan-jalan.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More